Insects as Future Food

siapkah manusia beralih ke protein serangga secara global

Insects as Future Food
I

Pernahkah kita membayangkan duduk di sebuah kafe estetik, memesan burger dengan patty yang tebal dan beraroma gurih? Kita memotongnya, lalu menggigitnya pelan-pelan. Rasanya luar biasa enak. Teksturnya pas, bumbunya meresap sempurna. Namun, saat kita memuji masakannya kepada sang koki, dia tersenyum tipis dan berkata, "Terima kasih, itu seratus persen jangkrik olahan." Reaksi pertama kita mungkin antara ingin langsung memuntahkannya, atau pura-pura tersenyum sambil mati-matian menahan mual. Tenang saja, teman-teman. Reaksi itu sangat manusiawi. Tapi suka atau tidak, skenario burger jangkrik ini bukanlah potongan dari film fiksi ilmiah dystopia. Ini adalah cuplikan nyata dari masa depan piring makan kita.

II

Mari kita lihat angka-angkanya sebentar, agar kita paham mengapa menu esktrem ini mulai dilirik. Pada tahun 2050 nanti, populasi bumi diperkirakan akan menembus angka sepuluh miliar jiwa. Sepuluh miliar perut ini butuh asupan protein setiap hari. Masalahnya, sistem peternakan konvensional kita saat ini sedang megap-megap. Untuk menghasilkan satu kilogram daging sapi, kita butuh belasan ribu liter air dan lahan yang luasnya tak masuk akal. Belum lagi gas metana dari kotoran sapi yang secara diam-diam mempercepat pemanasan global.

Di sisi lain, mari kita lirik para serangga. Mereka adalah mesin pengubah nutrisi yang luar biasa efisien. Jangkrik atau mealworm (ulat hongkong) hanya butuh sebagian kecil air, pakan yang jauh lebih sedikit, dan ruang seadanya untuk menghasilkan jumlah protein yang setara dengan daging sapi. Secara hard science, matematika serangga ini sangat brilian. Mereka kaya akan asam amino esensial, omega-3, zat besi, dan vitamin. Hitung-hitungannya begitu indah dan masuk akal untuk menyelamatkan bumi. Lalu, kalau memang sesempurna itu, kenapa kita tidak langsung saja beramai-ramai mengganti peternakan sapi dengan peternakan belalang?

III

Di sinilah letak masalah sesungguhnya. Hambatan terbesar untuk beralih ke protein serangga bukanlah teknologi atau sains, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba di dalam kepala kita: emosi. Lebih tepatnya, rasa jijik. Ketika mendengar kata "serangga", otak kita tidak memproses kata "asam amino tinggi". Otak kita secara otomatis memunculkan visual tentang tempat sampah, penyakit, dan hal-hal kotor yang merayap.

Tapi mari kita mainkan sebuah eksperimen pikiran. Di berbagai belahan dunia lain, dari pedalaman Meksiko hingga jalanan malam di Thailand, makan serangga atau entomophagy adalah hal yang sangat lumrah. Teman-teman kita di sana bisa mengunyah belalang goreng dengan santai seperti kita memakan keripik kentang. Ini memunculkan satu pertanyaan besar yang menggelitik. Apakah rasa jijik kita terhadap serangga ini adalah insting bawaan lahir untuk bertahan hidup, atau jangan-jangan ini sekadar hasil didikan budaya tempat kita dibesarkan? Dan kalau rasa jijik ini sekadar "ilusi" budaya, bisakah kita meretas otak kita sendiri demi keberlangsungan umat manusia?

IV

Sejarah ternyata punya jawaban yang sangat elegan untuk pertanyaan tersebut. Mari kita mundur sejenak ke Amerika pada abad ke-19. Saat itu, lobster dianggap sebagai hewan yang sangat menjijikkan. Mereka dijuluki sebagai "kecoa laut". Lobster begitu tidak berharganya, sampai-sampai hewan ini hanya diberikan sebagai makanan gratis untuk narapidana di penjara atau dijadikan pupuk tanaman. Namun seiring berjalannya waktu, seiring dengan berkembangnya jalur kereta api dan sedikit trik rebranding oleh industri kuliner, lobster perlahan naik kasta. Hari ini, lobster adalah simbol makanan mewah di restoran bintang lima. Sejarah membuktikan bahwa rasa jijik adalah persepsi yang sangat bisa diubah.

Inilah rahasia besarnya: transisi pangan di masa depan tidak akan menyiksa psikologis kita. Ilmuwan pangan modern tahu betul bahwa manusia tidak suka melihat antena atau sayap serangga menatap balik dari atas piring. Sebagai gantinya, serangga akan diekstrak dan diubah wujudnya menjadi bubuk protein tinggi yang halus. Bubuk inilah yang nantinya akan diselundupkan ke dalam adonan pasta, protein bar, camilan anak-anak, atau patty burger seperti di awal cerita kita tadi. Mata kita tidak akan melihat wujud aslinya, dan otak kita akan dengan senang hati tertipu oleh tekstur serta rasa lezat yang sudah sangat akrab di lidah kita.

V

Tentu saja, wajar jika saat ini perut kita masih terasa sedikit bergejolak memikirkannya. Membongkar kebiasaan makan yang sudah tertanam selama ratusan tahun memang butuh proses dan empati. Kita tidak harus besok pagi langsung membuang ayam goreng kesukaan kita dan menggantinya dengan sate ulat. Perubahan ini akan datang perlahan-lahan, menyusup dengan halus ke dalam rak-rak supermarket di sekitar kita lewat kemasan yang modern dan menarik.

Sebagai sebuah spesies, umat manusia selalu berhasil bertahan hidup melewati berbagai krisis karena kemampuan adaptasi kita yang luar biasa. Mungkin ini saatnya kita mulai melatih pikiran kita untuk sedikit lebih terbuka. Kelak, ketika anak cucu kita bertanya tentang bagaimana kita berhasil melewati krisis pangan global yang mengerikan, kita bisa tersenyum dan bercerita. Kita bisa memberi tahu mereka bahwa umat manusia berhasil selamat, dan ironisnya, kita diselamatkan oleh makhluk-makhluk kecil bersayap yang dulu sering kita usir dengan sapu lidi. Pertanyaannya sekarang, siapkah kita mengambil gigitan pertama itu?